herni
jadi satpam
Keagan Remington Utomo, putra kedua pasangan Harry Utomo & Daisy Julia ditanya: De, kalau kamu sudah besar nanti mau jadi apa? Jawabannya: Kalau udah besar, aku mau jadi satpam! Sebuah jawaban anak kecil yang mungkin membuat kita tertawa terbahak-bahak. Lucu sekali anak kecil cita-cita kok jadi satpam. Saya tidak bermaksud mengecilkan arti pekerjaan satpam, tapi coba kita tanya para orang tua, adakah mereka menginginkan anaknya sudah besar menjadi satpam? Saya kira tidak. Banyak orang tua yang sejak kecil saja sudah mendoktrin: nanti kalau kamu sudah besar kamu jadi dokter ya, jadi insinyur ya, jadi ahli IT ya, jadi profesor ya, jago fisika, jago matematik, jago menggambar, dll. Lalu mengapa si kecil Keagan kok punya cita-cita menjadi satpam? Sang ibu selidik punya selidik mengamati satpam di tempat sekolah putranya tersebut. Ternyata satpam di sekolah Keagan selalu sigap menyambut siapa saja yang datang, selalu ramah menyapa, membukakan pintu, hormat kepada siapa pun, pandai bercanda dengan anak kecil. Di benak si kecil ini, Sang Satpam bagaikan malaikat yang baik hati, enak diajak bercanda, selalu mau menolong Keagan. Pokoknya sang satpam dalam keseharian pekerjaannya telah membuat Keagan kagum. Kesan satpam yang sangar dan galak pun tidak ada. Dan satu hal yang membuat satpam tersebut menjadi spesial adalah karena ketulusannya membantu siapa saja. Lho, apakah kita bisa melihat orang melakukan sesuatu dengan tulus atau tidak? Memang tidak bisa begitu saja. Sekali dua kali kita tidak dapat menerkanya. Tapi kalau dasarnya orang baik, Tuhan tidak akan pernah meleset memberikan janji. Sepintar-pintar kita membungkusnya, bau busuk tetap akan tercium. Ketika semua orang mencoba menyingkirkannya, harum melati tetap tercium. Alloh SWT telah menciptakan satu sistem yang tidak akan pernah salah. Tidak ada bugs dalam sistem ciptaan-Nya. Tidak perlu ada patch dalam sistem Tuhan. Pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah bapak satpam ini adalah: kalau kita menjalankan pekerjaan kita dengan baik, dengan tulus, dengan sepenuh hati, jabatan serendah apapun mampu membuat orang lain respect dengan kita. Banyak orang yang merasa hebat dengan jabatannya. Di Tianshi, banyak leader yang merasa hebat dengan peringkatnya, apalagi jika peringkatnya paling tinggi. Tetapi jangan heran kalau banyak orang tidak respect dengan jabatan dan peringkatnya, ketika orang melihat hanya kesombongan yang nampak, arogansi, merasa paling hebat. Tidak sedikit orang karena jabatan dan peringkatnya membuat trik-trik yang menipu orang, tidak jujur dan ikhlas dalam membantu orang, terkandung maksud dari setiap pertolongannya. Banyak leader di Tianshi yang merasa sangat senang sering tampil di sampul majalah. Tapi mereka tidak pernah meningkatkan dirinya dengan membaca buku leadership lebih banyak, mengikuti training peningkatan EQ dan SQ. Maka yang terlihat adalah leader yang sombong dan tidak merakyat. Hingga hari ini.., saya masih tetap mengagumi seorang leader besar di Tianshi yang selalu menolak untuk dimuat liku-liku kesuksesannya di majalah-majalah. Bukan karena sombong tidak mau dimuat, tetapi berdasarkan pada niat tidak ingin riya (riya = perasaan ingin dipandang/dihargai/dipuji orang lain), beliau takut tidak bisa menjaga hatinya ketika orang lain terus memuji-muji keberhasilannya. Menyoal keseriusan, kesungguhan, kengototan, kekuatan motivasi, mungkin orang dengan jabatan dan peringkat tinggi tidak perlu belajar dari bapak satpam yang satu ini. Seharusnya mereka sudah punya semua itu, kalau tidak mana mungkin bisa dapat jabatan & peringkat yang tinggi. Tapi untuk urusan rendah hati, ketulusan, seperti kita memang harus mau belajar lagi dari bapak satpam yang satu ini. Seorang satpam yang rendah hati, sopan, dapat kita anggap biasa. Karena dengan kedudukan dan jabatannya mungkin satpam introspeksi diri, bahwa memang dia harus rendah hati dan sopan. Tapi kalau seorang dengan jabatan dan peringkat tinggi bisa lebih rendah hati, tentu nilainya akan berbeda dibanding rendah hatinya seorang satpam. Tidak mudah untuk dia menjadi lebih rendah hati dan tulus. Tidak mudah, karena mungkin uang dan kekuasaan telah menutup hatinya. Keagan si kecil yang belum mengerti apa itu yang disebut hati yang tulus, sudah bisa memberikan penilaian. Harum melati tidak perlu dipelajari bagaimana kok bisa harum, tapi si kecil dapat mencium harumnya.
Posted at 07:07PM Oct 19, 2006 by herni in General | Comments[1]